Senin, 07 Januari 2013

Menyingkap Sosok Kepemimpinan Umar bin Khatab, Di Adopsi Sebagian Oleh Jokowi Gubenur Jakarta

Gubernur Jakarta Joko widodo dikenal gubernur paling hobi blusukan, dikenal terjun langsung keliling Jakarta, melihat kehidupan warganya. Pagi, siang, dan malam, Pimpinan tertinggi Ibu kota Indonesia ini tak henti menyambangi berbagai tempat. Mulai dari sungai, rumah susun, taman, hingga pintu air. Ini dilakukannya tanpa protokoler, tanpa rencana, tidak ada sekat antara dirinya dan warga. Dia bebas bergerak untuk bertatapan langsung dengan penduduk.


Bagi Jokowi, blusukan itu penting untuk mengetahui masalah tengah dihadapi warga, mengontrol apakah instruksi dia berikan untuk perbaikan sarana dan prasarana bagi penduduk sudah dikerjakan aparat pemerintahannya, sekaligus memikirkan solusi persoalan Jakarta, terutama macet dan banjir.

Jauh sebelum Jokowi melakukan hal ini, sudah ada Khalifah Umar bin Khattab memberi contoh bagi para pemimpin untuk terjun langsung melihat rakyatnya. Umar seolah tak punya rasa lelah utuk mengetahui persoalan warga, dan setelahnya, dia sendiri yang turun tangan untuk mengatasi masalah itu, seperti dilansir islamicmovement.org.



Khalifah yang agung itu hidup dengan cara yang sangat sederhana. Tingkat kehidupannya tidak lebih tinggi dari kehidupan orang biasa. Suatu ketika Gubernur Kufah mengunjunginya sewaktu ia sedang makan. Sang gubernur menyaksikan makanannya terdiri dari roti gersh dan minyak zaitun, dan berkata, “Amirul mukminin, terdapat cukup di kerajaan Anda; mengapa Anda tidak makan roti dari gandum?” Dengan agak tersinggung dan nada murung, Khalifah bertanya, “Apakah Anda pikir setiap orang di kerajaanku yang begitu luas bisa mendapatkan gandum?” “Tidak,” Jawab gubernur. “Lalu, bagaimana aku dapat makan roti dari gandum? Kecuali bila itu bisa dengan mudah didapat oleh seluruh rakyatku.” Tambah Umar.

Dalam kesempatan lain Umar berpidato di hadapan suatu pertemuan. Katanya, “Saudara-saudara, apabila aku menyeleweng, apa yang akan kalian lakukan?” Seorang laki-laki bangkit dan berkata, “Anda akan kami pancung.” Umar berkata lagi untuk mengujinya, “Beranikah anda mengeluarkan kata-kata yang tidak sopan seperti itu kepadaku?” “Ya, berani!” jawab laki-laki tadi. Umar sangat gembira dengan keberanian orang itu dan berkata, “Alhamdulillah, masih ada orang yang seberani itu di negeri kita ini, sehingga bila aku menyeleweng mereka akan memperbaikiku.”

Hubungan dengan para penguasa

Suatu ketika khalifah Umar bin Khatab berjalan, semua orang pada minggir, tapi ada pemuda yang bersikap biasa saja. Dia hormat, tapi tidak pakai merunduk-runduk, minggir - minggir. Lalu pemuda tadi dimarahi sama yang tua-tua. Khalifah Umar bin Khatab mendengar, lalu beliau berkata; ” Justru pemuda seperti inilah yang diperlukan Islam, bukan seperti kamu - kamu ini”. Kalau pemuda-pemuda itu sikapnya begitu, tambah matang, maka dia tak mau diperalat orang lain kecuali untuk Agamanya. Kalau tunduk saja ya tidak ada manfaatnya. Sekarang harus saling memberi dan menerima.

Menjalankan Pemerintahan

Pada suatu hari, Amirul Mukminin Umar bin Khattab r.a naik mimbar dan berkhutbah, “Wahai, kaum muslimin! Apakah tindakanmu apabila aku memiringkan kepalaku ke arah dunia seperti ini?” (lalu beliau memiringkan kepalanya). Seorang sahabat menghunus pedangnya. lalu, sambil mengisyaratkan gerakan memotong leher, ia berkata, “Kami akan melakukan ini.” Umar bertanya, “maksudmu, kau akan melakukannya terhadapku?” Orang itu menjawab, “Ya!” lalu Amirul Mukminin berkata, “Semoga Allah memberimu rahmat! Alhamdulillah, yang telah menjadikan di antara rakyatku orang apabila aku menyimpang dia meluruskan aku.”

Menentang Pemborosan

Umar bin Khattab r.a mendengar bahwa salah seorang anaknya membeli cincin bermata seharga seribu dirham. ia segera menulis surat teguran kepadanya dengan kata-kata sebagai berikut: “Aku mendengar bahwa engkau membeli cincin permata seharga seribu dirham. Kalau hal itu benar, maka segera juallah cincin itu dan gunakan uangnya untuk mengenyangkan seribu orang yang lapar, lalu buatlah cincin dari besi dan ukirlah dengan kata-kata, “Semoga Allah merahmati orang yang mengenali jati dirinya.”

Khalifah Umar Meminjam Uang

Pada suatu hari, Khalifah Umar bin Khattab r.a membutuhkan uang untuk keperluan pribadi. ia menghubungi Abdurrahman bin ‘Auf, sahabat yang tergolong kaya, untuk meminjam uang 400 dirham. Abdurrahman bertanya, “mengapa engkau meminjam dari saya? Bukankah kunci baitul maal (kas negara) ada di tanganmu? mengapa engkau tidak meminjam dari sana?” Umar r.a menjawab, Aku tidak mau meminjam dari baitul maal. Aku takut pada saat maut merenggutku, engkau dan segenap kaum muslimin menuduhku sebagai pemakai uang baitul maal. Dan kalau hal itu terjadi, di akhirat amal kebajikanku pasti dikurangi. Sedangkan kalau aku meminjam dari engkau, jika aku meninggal sebelum aku melunasinya, engkau dapat menagih utangku dari ahli warisku.”

Umar Mengakui Kesalahan

Saat itu Umar bin Khattab r.a sedang berkhutbah,” Jangan memberikan emas kawin lebih dari 40 uqiyah (1240 gram). Barangsiapa melebihkannya maka kelebihannya akan kuserahkan ke baitul maal.” Dengan berani, seorang wanita menjawab,”Apakah yang dihalalkan Allah akan diharamkan oleh Umar? Bukankah Allah berfirman,……sedang kamu telah memberikan kepada seseorang di antara mereka sejumlah harta, maka janganlah kamu mengambil dari padanya sedikitpun………(An Nisaa’:20) Umar berkata,” Benar apa yang dikatakan wanita itu dan Umar salah.”

Khalifah sangat memperhatikan rakyatnya, sehingga pada suatu ketika secara diam-diam ia turun berkeliling di malam hari untuk menyaksikan langsung keadaan rakyatnya. Pada suatu malam, ketika sedang berkeliling di luar kota Madinah, di sebuah rumah dilihatnya seorang wanita sedang memasak sesuatu, sedang dua anak perempuan duduk di sampingnya berteriak-teriak minta makan. Perempuan itu, ketika menjawab Khalifah, menjelaskan bahwa anak-anaknya lapar, sedangkan di ceret yang ia jerang tidak ada apa-apa selain air dan beberapa buah batu. Itulah caranya ia menenangkan anak-anaknya agar mereka percaya bahwa makanan sedang disiapkan. Tanpa menunjukan identitasnya, Khalifah bergegas kembali ke Madinah yang berjarak tiga mil. Ia kembali dengan memikul sekarung terigu, memasakkannya sendiri, dan baru merasa puas setelah melihat anak-anak yang malang itu sudah merasa kenyang. Keesokan harinya, ia berkunjung kembali, dan sambil meminta maaf kepada wanita itu ia meninggalkan sejumlah uang sebagai sedekah kepadanya.

Berbanding terbalik, jika pemburu berita kerap mengintili Jokowi saat blusukan, Khalifah Umar justru enggan aksinya menolong warga diketahui orang lain.
Dia melakukannya sembunyi-sembunyi.

Itu tadi sepenggal kisah blusukan dilakukan Umar bin Khattab yang sebagian di adopsi oleh Jokowi Gubenur Jakarta. Meski tak banyak petinggi dunia melakukan hal sama, tapi sang khalifah telah mengajarkan terjun langsung melihat, dan mendekat dengan warga membawa hikmah luar biasa dan mendekatkan jiwa pemimpin dengan orang yang dipimpin. Sebaliknya, penguasa tidak tahu keadaan sekitar hanya tinggal menunggu kedigdayaannya selesai dengan tragis sebab dibenci rakyat.
Sumber : Brudoonews.com, kompasiana.com. 

Reaksi:

0 komentar: