Kamis, 23 September 2010

KEINDAHAN DAN KEMEWAHAN DI MASJID TUREN MALANG BISA UNTUK WISATA RELIGI






MASJID BESAR TUREN

1 Votes

Ini bukan mimpi. Aku benar-benar disana. 10 tingkat yang nyata. 10 tingkat yang menakjubkan. Aslinya bernama Ponpes Bihaaru Bahri ‘Asali Fadlaailir Rahmah dan, selayaknya pondok’an, pastinya di dalamnya terdapat masjid. Tapi ini bukan “masjid agung”, bukan pula “masjid rame lingkungan” seperti sebutan ibu-ibu Dharmawanita Dinas P&K Kabupaten Probolinggo yang minggu depan bakal aku antarkan untuk mengunjungi tempat ini, ataupun “masjid tiban” sebagaimana cerita-cerita yang selama ini tersebar di masyarakat ataupun sebuah surat kabar lokal yang mengada-ada. Bangunan ini murni pondok’an. Ini hanya sekedar pondok pesantren, tapi…. (lho kok ada tapinya?) arsitektur bangunan inilah yang membuat pondok pesantren ini lain daripada yang lain.

Ponpes ini dibangun sejak tahun 1978 di areal seluas 4 hektare, dan kira-kira baru 1,5 hektare dari luas tanah itu yang digunakan untuk bangunan utamanya. Arsitektur bangunannya sangat menawan. Sangat serius. Ini terlihat di setiap detail ornamennya. Benar-benar tak kusangka, kalau di sebuah desa kecil yang bernama Sananrejo, Turen, Kabupaten Malang berdiri sebuah bangunan yang arsitekturnya yang bisa membuat hati berdecak kagum. Bagiku, seperti sedang berada di Jatim Park, tapi ini dalam bentuk wisata religi. Maksudnya, begitu kalian datang ke sini, kalian akan disambut oleh sebuah wahana demi wahana, dari kalian melangkahkan kaki untuk pertama kalinya di dalam bangunan pondok pesantren ini, sampai kalian keluar. Dari tingkat pertama sampai dengan tingkatnya yang ke sepuluh.
Lebih dari itu, arsitektur yang dipakai bukan hasil ilmu dan imajinasi seorang arsitek yang handal. Tapi dari hasil istikharah si pemilik pondok, KH Ahmad Bahru Mafdlaludin Soleh. “Jadi kita tak tahu kapan pembangunan ponpes ini selesai. Sekarang sudah 10 lantai dibangun, bisa jadi nanti ditambah atau bisa-bisa dikurangi. Semua tergantung istikharah Romo Kyai (Kyai Ahmad, pen.). Romo Kyai juga yang ngepaskan amalan-amalan. Mungkin karena itu, di luar sana muncul berita bahwa bangunan ini adalah masjid tiban. Padahal ini bukan masjid tapi ponpes, “ tutur Gus Alief Sumarsono, salah seorang santri yang bertugas untuk mengantarku berkeliling ketika itu.
Sebelum aku bertanya tentang kegundahan hatiku perihal kenapa kok harus membangun bangunan yang begitu megahnya itu, padahal uangnya kan bisa digunakan untuk membantu sesama, Gus Alief juga sudah terlebih dahulu menambahkan, “Banyak yang berkata bangunan tidak dibawa mati. Tapi kita tidak begitu. Kalau hanya diberikan orang miskin, misal uang sepuluh ribu. Ya, sudah hanya buat makan hari itu saja terus gak berarti. Tapi kalau uang sepuluh ribu itu buat beli batu-bata, jadi bagian dari bangunan ponpes ini. Lihat sampeyan atau pengunjung lain yang datang ke sini senang hatinya. Syukur-syukur kalau nanti kebuka hatinya, tentu hal itu akan lebih barokah.”
Gus Alief tak sekadar ngecap, tiap hari selalu datang pengunjung dari berbagai kota ke ponpes ini. Di buku tamu pun berbagai komentar tentang keindahan ponpes ini tertulis. Bahkan, tak jarang ada yang mengaku tersentuh hatinya ketika memasuki sebuah ruang. “Tiap orang berbeda. Sampean mungkin tersentuh di ruang mushala, mungkin yang lainnya di taman. Dulu ada orang Tasikmalaya datang malam-malam, tobat di sini setelah sebelumnya mendatangi ponpes ini,” tutur Gus Alief.

Ilmu Ikhlas
Sejak tahun 1978, Kyai Ahmad murid Kiai Sahlan di Sidoarjo ini memilih Turen untuk mendirikan ponpesnya. Sejak itulah, dengan dibantu oleh para santrinya, Kiai Ahmad memulai pembangunan ponpes dengan alat pertukangan sederhana dan proses belajar sendiri. Jadi hangan heran kalau akhirnya santri-santrinya punya spesialis ketrampilan.
Santri Kiai Ahmad sekarang ada 32 yang sudah berkeluarga dan tinggal di sini. Jadi bisa dihitung tambahan santrinya. Sedang yang belum berkeluarga ada 37 orang. Semua santri itulah yang menjadi tukang sekaligus mandor bangunan ini. Mereka bekerja tidak menggunakan alat-alat berat modern. Semua dikerjakan sendiri.
Dengan belajar langsung dalam pembangunan ponpes inilah para santri diajar ngaji kehidupan sehari-hari. “Mereka yang sudah berkeluarga pun yang belum akan memiliki peran sendiri-sendiri Di ponpes ini, orang bertabiat A sampai Z ada. Di sinilah mereka tersentuh hatinya. Dengan ikut berpartisipasi ini mereka mengamalkan ajaran cinta bukan pahala,” ungkap Gus Alief
Harus diakui, lamanya proses pembagunan ponpes ini mengisyaratkan perlunya kesabaran dan keikhlasan. Tiap detil ornamen harus digarap dengan sabar dan teliti. Selain pekerjaan yang tak mudah itu, sebagai tukang, para santri juga bukan orang yang dibayar. Keikhlasanlah yang akhirnya menjadi oase di dalam hatinya.
“Semua itu tentu saja sumbernya dari cinta. Dalam agama kita diajarkan itu semua. Dengan menjalani itu semua para santri membersihkan hatinya dari penyakit-penyakit hati. Kalau raganya yang sakit, datang ke sini maka yang disembuhkan adalah hatinya dulu,” urai Gus Alief. Sesudah itu semua, yang tak boleh dilupakan adalah ibadah syukur. “Ngibadah syukur tidak ada berhentinya. Yang tidak bisa, ya kita doakan saja.” Pungkas Gus Alief.
Bangunan Hikmah Bukan Nafsu
SETIAP tanggal 17 Agustus atau ketika pondok mengadakan tasyakuran, di ponpes ini selalu dibentangkan bendera merah putih yang beratnya kira-kira mencapai 1 kuintal. Di salah satu lantai atas, tali-tali sudah ditata membentuk bentangan bendera yang sangat besar. Di bawah bentangan itu, ada kios-kios souvenir yang dikelola oleh para santri wanita.
Di pintu gerbang utama, kalian akan melihat dua buah bangunan mirip guci yang sangat besar dan tinggi berwarna oranye dan biru. Keduanya dipakai untuk pos. Di sisi kanan terletak sebuah taman yang dikelilingi pagar seperti taman bergaya Persia atau India.
Di lantai dasar, memasuki pintu utama, lewat lorong yang di sisi kiri kanannya penuh ornamen. Ornamen itu mirip batik dipenuhi bentuk daun atau bunga. Di sisi lain juga ada kaligrafi. Di salah satu lantai juga ada beberapa ruang mirip gua, dipenuhi batu-batu yang diterangi lampu. Sementara di sisi kiri-kanannya beberapa akuarium berjajar dipenuhi berbagai ikan hias.
Semakin lama disusuri semakin banyak aku menemukan keindahan. Ada sebuah kolam lengkap dengan perahu yang penuh hiasan yang biasa digunakan untuk acara foto pre-wedding bagi pasangan calon pengantin. Di pinggir pondok juga ada taman margasatwa. Di situ ada beberapa pasang kijang dan beberapa ekor buruh cendrawasih.
Keindahan ini sangat diperhatikan. Seperti kata Gus Alief di atas, hal itu agar membuat para pengunjung senang berada di lingkungan ponpes. “Siapa tahu mereka akan terketuk, terbuka hatinya. Demikian juga dengan santri-santri di sini, mereka semua belajar,” ujar Gus Alief.
Benarlah. Jadi jangan heran kenapa pembangunan ponpes ini tak juga usai. “Sebab ini bukan bangunan nafsu yang diselesaikan dari atas ke bawah, tapi ini bangunan hikmah, melalui istiqarah, bangunan ini diselesaikan dari bawah ke atas.” Ujar Gus Alief menutup pembicaraan kami.


Menelusuri "Masjid Jin" di Turen, Malang
Catatan perjalanan di Turen, Malang, Jumat, 27 Maret 2009

Ada yang pernah dengar tentang "Masjid Jin" atau "Masjid yang dibangun oleh Jin", atau yang sejenisnya? Bahkan, ada yang menyebut bangunan ini dengan sebutan "masjid tiban" alias masjid yang "tiba-tiba ada". Berita heboh ini pernah santer di area Malang Raya sekitar awal tahun 2009 ini. Bagaimana tidak santer, entah dari mana asalnya, tiba-tiba ada yang mengeluarkan informasi bahwa ada bangunan bagus berupa masjid yang berada di wilayah yang cukup terpencil, dengan kondisi ekonomi warga sekitarnya yang termasuk golongan menengah bawah? Tak ayal lagi, berita ini sempat menghiasi artikel salah satu koran lokal yang berada di kota dingin Malang.


Dampaknya, (menurut cerita salah seorang kawan yang pernah berkunjung di tempat ini) buanyaaaakkkkkk sekali pengunjungnyaa..... karena, bangunannya bagus sekali...!!!

Berdasarkan cerita salah seorang kawan tersebut, membuat saya penasaran akan keberadaan bangunan yang disebut sebagai bangunan masjid. Usai menjadwal kegiatan sehari-hari, akhirnya tercapai pula waktu yang ditentukan. Dimana saya dan beberapa teman lainnya ada waktu luang, maka kami berangkat ke sana, ke bangunan yang disebut kebanyakan orang sebagai "masjid jin".

Berangkat di siang hari menuju Turen membutuhkan waktu perjalanan sekitar 45 menit dari pusat kota Malang. Panas teriknya mentari tak menyurutkan keinginan untuk segera sampai ke "masjid jin". Usai perjalanan yang cukup menantang, karena mengendarai beberapa motor, akhirnya sampai juga di depan bangunan tersebut. Alhamdulillah...sampai dengan selamat di tujuan. Kemudian kami memasuki jalan kampung yang kira-kira lebarnya cukup untuk dilewati sebuah bus pariwisata. Di kiri-kanan jalan tersebut adalah rumah-rumah penduduk, yang lebih familiar disebut sebagai perkampungan. Begitu kami tiba, dan mendongakkan kepala, kami takjub dengan apa yang kami saksikan di depan kami. Wow.....sebuah bangunan besar menjulang nan megah terpampang. Meski tampak belum jadi 100% tampak bangunan ini sangat luar biasa bagusnya...



Terlihat sangat jelas, seni arsitektur yang sangat mengagumkan telah ditunjukkan ornamen-ornamen yang berada di tempat ini. Perpaduan gaya arsitektur Arab, India, China tampak terlihat dengan jelasnya. Dengan corak warna yang beragam membuat kesan bangunan sekilas bukan sebuah masjid. Sebenarnya ini adalah sebuah bangunan pondok pesantren, namanya Bihaaru Bahri ’Asali Fadlaailir Rahmah. Bertempat di Jalan Wahid Hasyim, Gang Anggur, Desa Sananrejo, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang. Ternyata apa yang diceritakan teman saya benar, bahwa bangunan ini sangatlah megah. Luar biasa... Usai memarkirkan kendaraan kami, yang letaknya di dekat gerbang pintu masuk bangunan pondok pesantren (=untuk mempermudah, saya singkat menjadi "Ponpes"), kami segera memasuki areal pelataran.



Memasuki bangunan pertama kali akan dihadapkan dengan semacam ruang yang kalau boleh dikatakan sebagai serambi. Yang salah satu bagian temboknya di desain mirip desain dinding gua yang ada beberapa ruang lagi di balik dinding tersebut. Jadi, mirip seperti bangunan ber-ruang. Dimana di salah satu ruang tersebut ada sebuah ruangan yang penuh dengan akuarium yang ditata sedimikian rupa. Diisi dengan ikan berbagai macam dan jenis.... Nah ada kejadian lucu disini. Saat itu, ruangan akuarium tersebut tampak gelap gulita. Saya mencoba memasuki ruangan tersebut. Karena penasaran, di kejauhan nampak ada sebentuk benda aneh namun bercahaya redup dan bersuara seperti kecipak air yang berada di kolam. Saya dan salah seorang kawan saya memasuki ruangan itu bersamaan dan tiba-tiba lampu di ruangan tersebut menyala! Dan diiringi suara burung-burung berkicau! Kami sempat kaget, namun tertawa-tawa kemudian, karena kekagetan kami....:) .Usut punya usut, ternyata adalah semacam sensor suara/sensor gerak dan lampu yang diaktifkan ketika ada seseorang yang memasuki ruangan tersebut. Betapa canggihnya ponpes ini...


Gambar berikut adalah salah satu ruang di sebelah kanan pintu masuk bangunan. Ruang tersebut nampak terdapat berbagai hiasan yang mirip sebuah penginapan.
Baik hiasan yang tergantung di langit-langit ruangan maupun yang ditempelkan pada dinding ruangan. Bahkan, meja kursi yang terdapat di sana terbuat dari bahan kayu yang bentuknya sangat artistik...
Kemudian jika kita memasuki salah satu ruangan, di ruang tersebut akan terhubung oleh suatu pintu. Sehingga kita akan bisa memasuki ruangan yang lain. Dimana tiap ruang mempunyai desain ruangan yang berbeda-beda. Jadi, kita tidak akan bosan memasuki ruang demi ruang.


Dominasi desain ruangannya tidak jauh-jauh dari gaya kaligrafi. Kaligrafi dengan berbagai model, jenis, warna, bentuk, dan corak.
Seperti yang tampak pada gambar di samping ini, adalah salah satu jenis hiasan yang terdapat dalam salah satu ruang. Jam klasik ini tampak begitu bagus diletakkan di tengah-tengah ruangan. Ditempatkan di depan dinding yang bercorak kaligrafi dengan penataan yang sangat mengagumkan.

Sebenarnya di bangunan pondok pesantren ini ada lift. Namun ketika saya berkunjung ke tempat ini, masih belum bisa difungsikan. Tidak begitu mengherankan jika di sini terdapat lift, karena bangunan ini terdiri 10 lantai. Meskipun belum sepenuhnya selesai dibangun, masih ada anak tangga ataupun jalan yang menghubungkan antar ruang/antar lantai yang landai. Sehingga kita tidak merasakan naik ke lantai berikutnya.


Jikalau kita merasa capai ketika berjalan, ada banyak tempat untuk beristirahat. Ada yang berupa kursi dari kayu jati dengan desain yang unik.
Dan di salah satu ruang di lantai atas terdapat jenis ornamen yang menurut saya sangat bagus. Seperti gambar di samping, berupa kursi singgasana dengan hiasan warna kuning keemasan, simbol kemewahan nan anggun. Hiasan bergaya India dengan perpaduan rangkaian kaligrafi di beberapa bagiannya.
Juga turut terdapat gaya modern yang menghiasi berbagai ornamen yang ada di aksesoris maupun dinding-dinding bangunan ini.
Tak luput dari perhatian, ada kolam berukuran cukup besar, yang lengkap berisi ikan aneka ukuran di lantai bagian atas. Jenis yang terlihat saat itu adalah ikan koi, ikan emas, dan lain sebagainya.


Seperti yang tampak dalam gambar berikut. Gambar ini diambil di lantai atas (maaf lupa di lantai berapa). Ini adalah kubah kubah yang berhiaskan semacam motif berwarna-warni yang semarak. Dimana di depannya diletakkan sejenis pohon kurma buatan. Yang unik, pohon kurma buatan ini terdapat lampu-lampu kecilnya, jika dinyalakan, akan tampak kelap-kelip. Yang lebih mengagumkan, di lantai atas lagi terdapat kebun jagung yang tumbuh subur! Juga terdapat semacam pekarangan yang disulap mirip kandang sebagai pemeliharaan beberapa ekor monyet yang sedang berlompatan ke sana-kemari.


Di bagian belakang adalah bangunan ponpes yang masih dalam tahap pengerjaan. Meski demikian, nampak anggun dan mewah unsur seni yang terdapat dalam ornamen-ornamennya.
Bangunan ponpes ini dibangun sejak tahun 1978,
sampai sekarang bangunannya belum selesai
100%. Jadi tidak heran jika pada saat berkunjung ke sana masih terlihat beberapa orang yang bekerja. Arsitek dari pembangunan ponpes ini bukanlah seseorang yang belajar dari ilmu arsitektur di perguruan tinggi, melainkan hasil dari istikharah pemilik pondok, KH Achmad Bahru Mafdloludin Sholeh. Karenanya, bentuknya menjadi sangat unik, seperti perpaduan timur tengah, china dan modern.
Di bagian dalam ada beberapa musholla. Untuk laki-laki terpisah dari musholla wanita. Sayapun sempat melakukan sholat Ashar di salah satu musholla, tidak terlalu besar ruangannya, di beberapa bagian musholla masih terlihat pengerjaan yang belum selesai, tapi sudah bisa digunakan. Meski belum selesai, beberapa kamera CCTV sudah terpasang di bagian dalam musholla. Yang unik adalah jalan menuju ke musholla ini dan tempat wudhu. Dengan suasana yang agak gelap, kita harus melewati beberapa lorong yang hanya cukup untuk dua orang saja. Bentuk lorong pun tidak selalu lurus, terkadang ada yang berbelok maupun malah menuju ke lantai yang lebih atas. Jika salah masuk lorong, dijamin tidak akan sampai ke musholla. Ini juga mungkin yang membuat ponpes ini unik dan menarik buat dikunjungi.
Sudah tak terasa berkeliling ke sana-ke mari menjelajah ruang demi ruang di bangunan ponpes ini. Akhirnya, kami berjalan ke luar bangunan, dimana jalan yang akan menuntun kami menuju tempat luar bangunan. Sebenarnya ketika ke luar menuju bangunan ini (di lantai atas) terdapat aneka kios yang menjajakan berbagai macam suvenir. Namun ketika saya akan berjalan ke luar, kebanyakan kios-kios tersebut sudah tutup, dikarena waktu yang sudah sore


Usai berjalan kembali sampai menuju ke lantai paling dasar, maka saya sempatkan "mampir" ke bagian samping halaman bangunan ponpes ini. Dimana di bagian ini terdapat tempat peristirahatan yang lebih mirip bergaya kerajaan berwarna putih di hampir semua bagiannya. Tempat ini dibedakan tempatnya untuk pria dan wanita. Berbagai macam tempat duduk diletakkan disini. Sehingga kita bisa melepaskan penat usai "berkelana" di tempat ini sambil menikmati pemandangan pepohonan yang ada di sekitar. Gambar di samping ini adalah bagian depan tempat peristirahatan yang berada di samping depan bangunan ponpes.


Ketika saya berjalan di samping bangunan, secara tidak sengaja saya menemukan "angle" bangunan yang tampak seperti dalam gambar di samping. Begitu mengagumkan! Mirip seperti bangunan kerajaan di negeri dongeng....
Aneka ornamen menghiasi dinding dan pilar-pilar yang terdapat di dalamnya. Sehingga kesan istimewa dan mewah patut disematkan di tempat ini.
Inilah bagian bangunan yang menjadi favorit saya...
Sangat istimewa dengan segala pernak-pernik dan ornamennya. Perpaduan warna putih, biru, krem, kuning, dan lainnya terlihat sangat kompak dan padu....
Namun yang lebih unik lagi adalah di berbagai sudut ruangan tidak dijumpai kotak amal yang biasanya lazim di jumpai di salah satu sudut tempat peribadatan. Ini yang membuat pikiran saya bertanya-tanya. Dapat dana dari mana "sang kreator " ketika merancang, membuat, dan membangun tempat sebagus ini?


Ketika berjalan menuju ke arah pintu ke luar, di salah satu sudut dindingnya terdapat kaligrafi berukuran besar yang "menempel" di sini. Ini adalah salah satu dari sekian banyak kaligrafi yang ada.
Nah, di akhir kunjungan kita diminta mengisi pendapat tentang ponpes ini. Berbagai komentar pun ada, yang kebanyakan menyatakan kekaguman akan kemegahan dan kemewahan bangunan ponpes ini. Bahkan ada yang mengaku tersentuh hatinya ketika memasuki sebuah ruangan. Luar biasa...


Yang menarik, setelah kita menuliskan pendapat, kita tidak ditarik uang sepeser pun! Ada satu papan yang didalamnya dipasang beberapa kliping berita di surat kabar tentang ponpes ini. Di situ juga ada semacam bantahan bahwa ponpes ini dibangun oleh bangsa jin. Setelah puas berkeliling, dan memuaskan rasa ingin tahu saya tentang bangunan ponpes ini, akhirnya saya bisa mengambil suatu kesimpulan, jika ponpes ini bukan dibangun oleh bangsa jin, seperti yang banyak dibicarakan orang. Ini bisa dilihat di salah satu sudut bangunan terdapat foto yang menunjukkan tahapan pembangunan dari beberapa tahun yang berjalan. Saya bisa memahami, karena bangunan ini sangat megah, mewah, sangat luas, dan berada di perkampungan penduduk desa. Mungkin yang bisa jadi bahan renungan buat kita adalah, jika kita mempunyai uang banyak, akankah terbersit di pikiran untuk membuat bangunan semegah dan semewah ponpes ini? Banyak sekali hikmah yang bisa kita dapat dari perjalanan menelusuri ponpes Bihaaru Bahri ’Asali Fadlaailir Rahmah ini.
This entry was posted on 2:04:00 AM and is filed under Peristiwa .

Reaksi:

1 komentar:

SubhanAllah...
Sangat luar biasa.. terus terang saya belum mengunjungi dan akan berniat mengunjungi Ponpes tsb dalam waktu dekat...

Terima kasih atas tulisan Anda sangat membantu untuk Informasi..

Mohon IJIN untuk mengutip/copy tulisan Anda untuk rekan n kolega saya..

salam
Syafaat