Selasa, 08 Februari 2011

Hidup di Bawah Ancaman Suami


By Petti Lubis, Anda Nurlaila - Selasa, 8 Februari

VIVAnews - Perilaku intimidasi atau bully dimulai di masa kanak-kanak. Biasanya perilaku muncul akibat belajar dari saudara atau keluarga dekat. Bila tak diatasi, perilaku yang suka mengancam orang yang dianggap lemah terbawa hingga dewasa, bahkan hingga saat memiliki pasangan.

Apakah Anda merasa telah menikahi 'bullier' atau seorang penindas? Apabila pasangan memiliki sifat yang suka meneriaki orang, menyerang, senang keributan dan sering melakukan tindakan kekerasan yang tak terduga. Berikut ciri-ciri pelaku bullier, seperti dikutip Yourtango.

Sulit ditebak

Perilaku yang Anda lakukan kemarin tidak direspon olehnya namun tanpa diduga tiba-tiba si dia meledak di depan Anda. Hal ini sering terjadi di rumah dan bisa menimbulkan pertengkaran panjang. Anda tak pernah menduga kapan pasangan berperilaku berlebihan.

Sering mengejek dengan komentar pedas

Perkataannya yang mengejek membuat sering membuat sakit hati. Bila Anda merespon, ia akan mengelak dengan berkata bahwa ia hanya bercanda.

Marah besar jika pasangannya tak menurut

Si dia bisa naik pitam bila Anda tak memenuhi keinginannya. Namun, ada kalanya ia berubah cuek saat keinginannya tidak dipenuhi. Ini adalah cara mereka menunjukkan kepada pasangan bahwa dirinya yang mengendalikan hubungan Anda berdua.

Sering mengancam

Pria tipe 'bullier' akan sering melontarkan kalimat ancaman, seperti perceraian, tidak akan menafkahi, akan membawa pergi anak-anak dan ancaman yang dianggap akan merugikan pasangan. Dia akan melakukan hal yang mereka anggap penting untuk memperoleh keinginan mereka.

Banyak pasangan yang hanya menyimpan rasa kesal dan marah akibat perilaku tersebut. Jika demikian, sebaiknya perlahan bantu dia menangani masalahnya. Kalau perlu, Anda berdua berpisah sementara hingga si dia bisa mengubah perilakunya.

Berikut beberapa cara untuk membantu pasangan melunturkan sikap intimidasinya:

1. Saat pasangan berusaha memperlakukan Anda dengan baik, puji dan hargai usahanya untuk berubah.

2. Sebisa mungkin, pelihara hubungan dan komunikasikan tujuan pernikahan terus menerus.

3. Menggunakan frase "Aku rasa..." terhadap tindakannya yang membuat Anda tak nyaman. Bicaralah dengan jujur saat pasangan mulai mengintimidasi atau mengancam, ini akan membantu pasangan agar tidak defensif.

4.Bila memungkinkan, biarkan pasangan menerima konsekuensi akibat perilaku bully mereka.

5. Usahakan segera mengubah perilaku bully pasangan sebelum memiliki anak. Jangan menerapkan hal sama saat mendidik anak. Hal terburuk dari pengintimidasi adalah mereka mengajarkan hal sama kepada anak-anak mereka.

Reaksi:

0 komentar: