Minggu, 04 Maret 2012

POLITIK PECAH BELAH (DEVIDE ET IMPERA) DAN TERPURUKNYA TIMNAS KITA

 




                                             Timnas Tahun 1938, 1956, 1987, 2010 


Sepuluh Hasil Buruk Indonesia Sepanjang Sejarah

Sepuluh. Angka ini mendadak tidak lepas dari benak pikiran serta ramai menjadi pembahasan penggemar sepakbola tanah air, Rabu (29/2) malam lalu. Pasalnya, telah tercipta sejarah yang sayangnya merupakan peristiwa memalukan bagi timnas Indonesia. Pada laga terakhir kualifikasi Piala Dunia 2014 zona Asia, Indonesia ditelan tuan rumah Bahrain, 10-0.

Sepuluh gol tercipta ke dalam gawang Andi Muhammad Guntur. Seakan kian melengkapi penderitaan, Samsidar menerima kartu merah pada menit ketiga pertandingan, menyusul kartu merah kepada pelatih Aji Santoso, dan empat kali hukuman penalti yang dijatuhkan wasit Andre El Haddad asal Libanon. Sejarah juga mencatat, tidak ada tim lain setelah Brighton & Hove Albion pada Maret 1989 yang menerima empat hukuman penalti sekaligus pada satu pertandingan.

GOAL.com mencoba merangkum sepuluh hasil pertandingan terburuk yang pernah dialami Indonesia sepanjang sejarah. Definisi "terburuk" tidak mesti berarti kekalahan dengan skor besar, tetapi juga hasil-hasil mengejutkan dan di luar dugaan yang mencegah terwujudnya mimpi Indonesia untuk berprestasi. Sepuluh pertandingan ini juga dipilih berdasarkan dampaknya terhadap perkembangan sepakbola tanah air secara keseluruhan. Dengan demikian, kekalahan 7-1 dari Uruguay, misalnya, pada laga ujicoba tidak masuk dalam catatan.

Catatan hasil-hasil ini juga tidak dimaksudkan untuk menghujat, melainkan dilakukan dengan semangat pembelajaran dari pengalaman yang sudah dialami Indonesia. Sepakbola tidak melulu soal kemenangan, tetapi juga bagaimana caranya bangkit dari keterpurukan.

1. Mogok di debut regional, vs Thailand 1-1, SEA Games 1977 Untuk kali pertama Indonesia berpartisipasi di pesta olahraga negara Asia Tenggara, SEA Games. Di cabang sepakbola, Indonesia disematkan status favorit karena sudah langganan tampil di turnamen antarnegara seperti Merdeka Games, Piala Raja Thailand, atau Piala Presiden Korea Selatan. Status favorit kian lantang ketika Indonesia mampu mengalahkan tuan rumah Malaysia 2-1 pada laga debut SEA Games. Setelah laga itu, skuad Indonesia menuding kubu tuan rumah menerapkan strategi tidak sportif dengan jadwal ketat. Puncaknya terjadi ketika di laga semi-final Indonesia memprotes kepemimpinan wasit Othman Omar, asal Malaysia, yang dianggap berat sebelah. Pemain Indonesia berkelahi dengan Thailand dan wasit menghentikan pertandingan pada menit ke-60 pada kedudukan 1-1. Indonesia menolak melanjutkan laga sehingga panitia memberikan kemenangan kepada Thailand. Indonesia pun melanjutkan protes dengan mogok bertanding pada pertandingan perebutan medali perunggu melawan Burma.

2. Super-Mokh membungkam Senayan, vs Malaysia 0-1, SEA Games 1979 Setelah kasus mogok pada partisipasi debut, Indonesia berhasil melaju ke babak puncak SEA Games 1979 yang digelar di kandang sendiri. Ratusan ribu pasang mata memadati Senayan berharap Indonesia mampu melengkapi gelar juara umum dengan medali emas cabang primadona, sepakbola. Apalagi musuh di laga puncak adalah seteru abadi, Malaysia. Harapan masyarakat Indonesia musnah di kaki penyerang legendaris Harimau Malaya, Mokhtar Dahari. Memanfaatkan kecerobohan Ronny Pattinasarany, pemain berjuluk Super-Mokh itu berhasil membobol gawang Ronny Paslah pada menit ke-21. Indonesia gagal membalas sepanjang sisa pertandingan dan rivalitas dua negara tetangga ini pun kian dalam.


2. Raksasa melawan liliput, vs Fiji 3-3, Kualifikasi Piala Dunia 1982
Indonesia tak mampu mengalahkan Fiji, negara seukuran provinsi Nusa Tenggara Barat, dalam dua pertemuan pada kualifikasi Piala Dunia 1982. Tergabung di Sub Grup A kualifikasi Piala Dunia 1982 bersama Selandia Baru, Australia, Taiwan, dan Fiji, Indonesia nyaris saja terhempas menjadi juru kunci. Hasil buruk dibukukan pada empat laga pertama ketika dibekuk Selandia Baru 2-0 dan 5-0, kandang dan tandang, menyerah 2-0 dari Australia di Melbourne, dan bermain imbang 0-0 melawan tuan rumah Fiji. PSSI memutuskan mengganti pelatih Harry Tjong dengan Endang Witarsa. Di Senayan, dua hari sebelum melawan Fiji, seperti dilansir Tempo, manajer Syarnoebi Said akan menyuruh pemain Indonesia bersumpah guna menepis kecurigaan kemungkinan disuap. Di lapangan, Indonesia sempat unggul 3-1 sebelum akhirnya disamakan 3-3 oleh Fiji hingga pertandingan berakhir. Beruntung Indonesia selamat dari posisi juru kunci setelah menaklukkan Australia 1-0 pada laga pamungkas yang sudah tidak menentukan.

4. Antiklimaks Garuda 1, vs Thailand 0-7, SEA Games 1985
Hanya empat bulan setelah sukses menjuarai Sub Grup B kualifikasi Piala Dunia 1986 dan hanya kalah dari Korea Selatan yang lolos ke Meksiko, Indonesia tidak tampil dengan standar yang sama di SEA Games di Thailand. Padahal Indonesia tampil dengan sisa-sisa skuad Garuda 1 yang berlatih khusus di Brasil. Bedanya, Bertje Matulapelwa ditunjuk menjadi pelatih menggantikan Sinyo Aliandoe. Pada partisipasi kali ini, Indonesia hanya mampu bermain imbang sekali dalam empat pertandingan. Puncaknya adalah kekalahan telak 7-0 dari tuan rumah Thailand di semi-final. Usai SEA Games, Bertje tetap dipercaya PSSI menangani timnas. Seperti diketahui, Bertje kemudian sukses membawa Indonesia menempati peringkat keempat Asian Games 1986. Kegagalan SEA Games rupanya menjadi pelecut Indonesia untuk melaju jauh di Asian Games dan kemudian sukses menjuarai SEA Games 1987 yang digelar di Jakarta.

5. Gol bunuh diri Mursyid Effendy, vs Thailand 2-3, Piala Tiger 1998
Untuk menghindari tuan rumah sekaligus favorit Vietnam di semi-final, Indonesia dan Thailand "menolak" menang pada pertandingan terakhir babak penyisihan Grup A. Kedua tim sudah dipastikan lolos ke semi-final, tetapi hasil imbang saja sudah cukup bagi Thailand untuk menempati posisi runner-up dan terhindar dari laga melawan Vietnam. Ketidakseriusan memuncak usai jeda. Indonesia memimpin dua kali sebelum selalu disamakan Thailand. Puncaknya, pada menit ke-90 Mursyid Effendi melesakkan bola ke dalam gawang sendiri! Thailand menang 3-2 dan berhadapan dengan Vietnam di semi-final. Ketua Umum PSSI Azwar Anas menyambut kepulangan timnas di bandara dan sambil berlinang air mata menyatakan pengunduran diri karena insiden memalukan itu. Setelahnya, Mursyid juga mendapat sanksi larangan bermain untuk timnas seumur hidup oleh FIFA.

6. Antiklimaks di Negeri Tirai Bambu, vs Cina 0-5, Piala Asia 2004
Bersama pelatih Bulgaria yang senantiasa didampingi penerjemah bahasa Indonesia, Ivan Kolev, membawa Garuda mengejutkan Asia dengan menundukkan Qatar 2-1 pada laga perdana Grup A Piala Asia 2004. Hasil tersebut menyebabkan Qatar memecat pelatih Philippe Troussier. Optimisme pun melambung karena minimal Indonesia membutuhkan satu poin tambahan melawan Cina dan Bahrain pada dua laga susulan. Nyatanya, Indonesia tampil lesu pada laga kedua menghadapi tuan rumah Cina. Alex Pulalo mendapat kartu merah pada menit ke-29 dan Garuda menyerah 5-0. Pada laga terakhir Indonesia dikalahkan Bahrain 3-1 dan gagal masuk delapan besar. Kolev kemudian tidak melanjutkan tugas sebagai pelatih dan digantikan oleh Peter Withe untuk Piala AFF tahun yang sama. Tim besutan Withe, dengan mengandalkan bintang baru seperti Boaz Solossa dan Ilham Jayakesuma, tampil mempesona di turnamen tersebut.

7. Blunder Garuda Muda, vs Suriah 0-7, kualifikasi Piala Dunia 2010
Gairah publik meningkat setelah penampilan Indonesia di Piala Asia 2007 yang terbilang memuaskan meski gagal lolos ke babak perempat-final. Semangat melaju jauh di kualifikasi Piala Dunia pun mengapung ketika berhadapan dengan Suriah di babak eliminasi. Apa lacur, 9 November, Indonesia harus mengakui keunggulan tim tamu 4-1. Merasa tak lagi punya peluang, Indonesia mengirimkan tim U-23 yang disiapkan mengikuti SEA Games 2007. Kebijakan itu terbukti menjadi blunder. Garuda Muda menyerah 7-0 di Damaskus dan gagal total di Nakhon Rachasima, Thailand. Pelatih Ivan Kolev yang dipuja-puja saat Piala Asia pun sontak kehilangan kepercayaan PSSI dan digantikan dengan Benny Dollo di awal 2008.

8. Tersandung di Bukit Jalil, vs Malaysia 0-3, leg pertama final Piala AFF 2010
Sejengkal lagi perjuangan Indonesia mengakhiri puasa gelar sejak 1991 akan terwujud di Piala AFF 2010. Indonesia selalu menang dalam tiga pertandingan penyisihan grup dan dua laga semi-final melawan tim kejutan Filipina. Lawan di laga puncak adalah Malaysia, tim muda yang ditelan 5-1 pada laga pembuka di Senayan. Dengan segala sorotan dan eksploitasi terhadap tim asuhan Alfred Riedl, termasuk dengan kegiatan tim mengikuti pengajian sebelum laga final, Indonesia tersandung di Bukit Jalil. Malaysia mengejutkan dengan kemenangan 3-0 dan hasil itu hanya mampu dibalas 2-1 pada laga kedua di Senayan beberapa hari berselang. Harapan publik untuk berprestasi pun kembali pupus. Enam bulan setelah turnamen, terjadi pergantian kepemimpinan PSSI dan Riedl secara kontroversial dipecat untuk digantikan dengan Wim Rijsbergen.

9. Skandal Senayan, vs Yugoslavia Selection 2-3, Laga eksebisi
Almarhum Tony Pogacnik tercenung setiap kali ditanya wartawan tentang peristiwa memalukan yang terjadi di tengah persiapan Indonesia menghadapi Asian Games 1962 di negeri sendiri. Persiapan untuk cabang sepakbola digelar serius dengan menggelar pelatnas dan membentuk dua tim, Banteng dan Garuda. Sejumlah laga ujicoba digelar, antara lain menghadapi Torpedo Moskwa dan Yugoslavia Selection. Pada kekalahan 3-2 melawan Yugoslavia Selection disinyalir sejumlah pemain timnas menerima suap. Pogacnik bahkan sampai berlinang air mata ketika kepolisian memeriksa dan menahan beberapa pemain atas tuduhan tersebut. Pada akhirnya, Pogacnik terpaksa membentuk tim yang sama sekali baru. Di Asian Games, Indonesia gagal terbang tinggi dan tersisih di penyisihan grup.

10. Tragedi Manama, vs Bahrain 0-10, Kualifikasi Piala Dunia 2014
Terakhir, tentu saja hasil yang baru saja terjadi di pertandingan terakhir kualifikasi menuju Brasil 2014. Tak lagi punya peluang, ditambah dengan masalah dualisme kompetisi, PSSI memberangkatkan tim yang hanya diisi para pemain dari kompetisi legal. Wim Rijsbergen tidak lagi menjadi pelatih dan Aji Santoso dipercaya menukangi tim. Hasil buruk rupanya merusak laga debut Aji serta sebagian besar para pemain di ajang internasional. Kekalahan 10-0 di Manama ini merupakan yang terbesar dialami Indonesia sepanjang sejarah, melampaui rekor 9-0 ketika dikalahkan Denmark pada 1974.


MASUKNYA POLITIK PECAH BELAH / DEVIDE ET IMPERA DI ORGANISASI PSSI

Politik adu domba atau devide et impera adalah kunci sukses mengusai bangsa Goliath yang bodoh ini. Secara definitif, devide et impera adalah kombinasi strategi politik, militer, dan ekonomi yang bertujuan mendapatkan dan menjaga kekuasaan dengan cara memecah kelompok besar menjadi kelompok-kelompok kecil yang lebih mudah ditaklukan. Belanda menyadari betul, dengan cara mempelajari keberagaman Indonesia, mereka ubah keberagaman itu menjadi rasa kebencian dengan strategi devide et impera mereka.
 
Dari kolonialisme Belanda akhirnya bangsa ini mengenal praktek devide et impera. Sebelum zaman kolonial, keberagaman bangsa ini disadari oleh masing-masing budaya di Indonesia. Tidak pernah terjadi kisah serial Perang Nusantara I, II, III dan seterusnya. Perang antar kerajaan memang terjadi, tetapi bukan karena perbedaan, semata-mata ambisi raja-rajanya sendiri. Kita pernah membenci kolonialisme, tetapi kita meniru kelakuan mereka. Bangsa ini tidak berbakat imperialis. Lha Majapahit bagaimana? baca baik-baik, apa pernah ada koloni orang-orang Majapahit di Melayu, di Papua, di Kalimantan Tanjungpura? Majapahit tetap menghargai perbedaan meskipun haus penghormatan. Sriwijaya bagaimana pak? Ya sama saja, yang penting pelabuhan-pelabuhan berkiblat ke Sriwijaya. Mereka tidak pernah mengibarkan kebencian atas perbedaan.
 
Kini, devide et impera merambah sepakbola Indonesia.  Dan praktek itu akhirnya memang berhasil menggulingkan kekuasaan sebuah rezim sepakbola di PSSI yang selama 8 tahun menguasai sepakbola Indonesia. 

Karena ketidakpuasan terhadap rezim Nurdin Halid yang selama 8 tahun menjalankan kompetisi sepakbola dengan amburadul, nir prestasi internasional,kompetisi ISL yang penuh dengan mafia, seorang Arifin Panigoro memunculkan liga tandingan, LPI. Dengan klaim lebih profesional, jujur dan bebas dari uang rakyat. Maka, bermuncullah klub-klub baru hasil konsorsium untuk menyemarakkan liga tandingan tersebut. Umpan itu juga termakan oleh beberapa klub lama yang karena dikecewakan oleh induk organisasinya akhirnya membelot dan mengikuti liga tandingan. Persema, Persibo, PSM Makassar, dan Persebaya dianggap berkhianat. Arifin Panigoro berhasil menjalankan devide et impera-nya.
 
Tak terima dengan pembelotan klub-klub tersebut, Nurdin Halid bertindak tegas. Keempat klub pembelot tersebut dikeluarkan dari PSSI, meski kemudian akhirnya hanya PSM yang diampuni. Mungkin karena ikatan kedaerahan yang membuat Nurdin Halid mengampuni PSM. Sementara itu, Persebaya, yang entah kenapa menjadi musuh bebuyutan Nurdin, malah dibuatkan klub tandingannya. Diboyonglah para pemain Persikubar ke Surabaya, dan Nurdin pun membentuk Persebaya tandingan. Devide et impera.
 
Mengapa waktu itu hanya Persebaya yang dikloning? Karena Persebaya mempunyai basis supporter yang besar dan fanatik. Beda dengan Persema dan Persibo. Dengan mass power yang besar itulah Nurdin berharap Persebaya bikinannya akan bisa menarik sebagian supporter Persebaya asli untuk mendukung kekuasaannya. Meski kenyataannya terbalik. Persebaya-nya Nurdin malah tidak memiliki dukungan supporter.
 
Aksi people power para supporter Indonesia akhirnya berhasil menggulingkan Nurdin dari PSSI. Pengurus memang telah berganti, namun devide et impera masih terus berlanjut. Dengan maksud mereset kompetisi agar bisa dinilai lebih profesional, Ketua Umum PSSI terpilih Djohar Arifin merangkul kembali klub-klub yang dulu membelot. Dan operator kompetisi juga diganti karena ditenggarai mempunyai banyak hutang dan dijadikan ladang korupsi oleh pengurus lama.
 
Keputusan yang dianggap sepihak tersebut membuat beberapa orang pengurus membelot dan membentuk organisasi tandingan KPSI. Didukung oleh beberapa klub partisipan liga yang lama, akhirnya mereka memunculkan lagi liga tandingan diluar PSSI. Muncullah dualisme liga Indonesia, ISL dan IPL. Djohar Arifin yang menahkodai PSSI jelas kocar-kacir dengan serangan tersebut. Dengan alasan hukum dan administrasi serta deadline dari AFC, Djohar meminta semua klub sudah harus berbadan hukum. Pengurus klub yang tidak siap lebih memilih berlaga di ISL, dan muncullah dualisme klub. Ada Arema IPL, ada pula Arema ISL. Persija, PSMS, Persis Solo, dan Persebaya yang sudah lebih dulu dikembarkan. Sedangkan PSM Makassar yang sudah mapan di IPL, sedang dibuatkan kembarannya oleh Kadir Halid, adik dari Nurdin Halid. Divide et impera.
 
Setiap kubu punya alasan tersendiri, namun, tidak adakah kebesaran hati mereka untuk bisa duduk bersama mewujudkan kebersamaan dan persatuan? Berkacalah pada sejarah bangsa kita sendiri. Dalam pembahasan mengenai bahasa persatuan saat kumpul-kumpul Boedi Oetomo 1928, Jong Ambon keberatan dengan bahasa persatuan Indonesia yang didominasi kata dalam bahasa Melayu. Namun, kebesaran hati mereka yang menerima bahasa persatuan Indonesia akhirnya mampu menghasilkan sebuah kekuatan yang tidak terhingga: sumpah pemuda dan akhirnya kemerdekaan Indonesia. Lihat pula kebesaran hati Bung Hatta yang menepikan emosi, warisan konflik, serta egonya untuk bernegosiasi dengan penjajah Belanda dalam Konferensi Meja Bundar di Den Haag. Hingga hasilnya dapat kita nikmati sampai saat ini, yaitu kemerdekaan penuh dan berdaulat.
Inilah yang seharusnya dicontoh oleh KPSI dan PSSI, jiwa kepahlawanan untuk menyelamatkan sepak bola nasional harus dikedepankan ketimbang saling menjatuhkan satu sama lain. 

 



Reaksi:

0 komentar: