Sabtu, 27 April 2013

Peristiwa Kepergian Ustaz Jeffry, Menjadi Pelajaran Berharga untuk Kita Semua

Kepergian Uje setidaknya banyak memberikan kita pelajaran. Apakah kepergian kita akan dalam keadaan disalatkan ribuan orang? Apakah kepergian kita akan diantar oleh ribuan orang? Apakah kepergian kita akan dikenang banyak orang? Tentulah hanya amal perbuatan kita yang akan menentukannya. Hal ini tentu juga pelajaran bagi para petinggi partai Islam yang terjerat kasus korupsi. Apakah jika mereka mati akan diperlakukan layaknya seperti Uje oleh para pengikut dan jamaahnya? Sudah sepatutnya kematian ini memberikan kita kesadaran dan menyadarkan kita bahwa apapun yang kita lakukan akan dicatat dan kenikmatan yang kita dapatkan hanya sementara karena tempat tinggal kita sesungguhnya bukanlah di dunia yang fana ini.

SAKARATUL MAUT

Kematian akan menghadang setiap manusia. Proses tercabutnya nyawa manusia akan diawali dengan detik-detik menegangkan lagi
menyakitkan. Peristiwa ini dikenal sebagai sakaratul maut.

Malaikat Izrail menjalankan perintah Allah swt dengan sempurna. Dia tidak diutus hanya untuk mencabut roh orang sakit saja ataupun roh orang yang mendapat kecelakaan dan bencana.

Ketika seseorang meninggal dunia hanya ada tiga amalan yang akan dibawanya. Pertama adalah amal jariyah. Kedua, ilmu yang bermanfaat. Dan yang terakhir adalah anaknya yang saleh yang akan mendoakannya. Kematian adalah rahasia Allah SWT dan tidak ada satupun makhluk yang mengetahui kapan dia akan mati. Dalam kitab suci Al-Quran disebutkan bahwa setiap makhluk yang hidup pasti akan mati. Permasalahannya hanya satu, tidak ada satupun makhuk di bumi ini yang mengetahui kapan kematian akan menghampirinya. Ia datang tanpa permisi. Hanya Tuhan-lah yang berhak mengambil apa yang telah diberikan kepada kita semua. Itulah sepenggal kutipan dari Khatib yang begitu ringkas namun syarat makna. Sederhana namun sebagai renungan panjang.

Dalam sebuah hadist Rasulullah saw menjelaskan bahwa kesakitan ketika hampir mati itu seperti dipukul 100 kali dengan pedang tajam atau seperti dikoyak kulitnya dari daging ketika masih hidup.Bayangkanlah betapa sakit dan dahsyatnya saat menghadapi kematian. Bahkan Nabi Idris yang minta cara terhalus dalam mencabut nyawanya pun masih merasakan sakit luar biasa. Maka sangat beruntunglah siapa yang matinya dalam keadaan khusnul khatimah.

KEMATIAN ADALAH KEHARUSAN TAPI TIDAK ADA YANG TAHU WAKTUNYA KECUALI ALLAH

1. Kematian adalah hal penting. Tak kurang dari 145 ayat dalam Al Qur'an yang menyebut atau membahas masalah kematian. Tentang waktu kematian adalah rahasia Allah semata. Tidak ada yang tahu kapan, di mana dan bagaimana seseorang akan mati. Karena kematian menyangkut terpisahnya ruh dengan badan. Dan tidak ada yang tahu banyak tentang soal ruh kecuali Allah.

Allah berfirman: وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الرُّوحِ قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَمَا أُوتِيتُم مِّن الْعِلْمِ إِلاَّ قَلِيلاً

Artinya: Dan mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang ruh. Katakanlah, "Ruh itu urusan Tuhanku, sedangkan kamu diberi pengetahuan hanya sedikit." (QS Al Isra' 17:85)

2. Allah hanya memberi konfirmasi bahwa kematian itu ada dan karena itu mengingatkan manusia bahwa kematian dapat datang kepada kita sewaktu-waktu dan tidak akan dapat dihindari.

Allah berfirman: أَيْنَمَا تَكُونُواْ يُدْرِككُّمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنتُمْ فِي بُرُوجٍ مُّشَيَّدَةٍ

Artinya: Di manapun kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu berada di dalam benteng yang tinggi dan kokoh(QS An Nisa 4:78)

 قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلَاقِيكُمْ

Artinya: Katakanlah, "Sesungguhnya kematian yang kamu lari dari padanya, ia pasti menemui kamu. (Al Jum'ah 62:8)

Hadis Nabi saw yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Abbas ra bahwa Rasulullah saw bersabda:

"Bahwa malaikat maut memperhatikan wajah manusia dimuka bumi ini 70 kali dalam sehari. Ketika Izrail datang merenung wajah seseorang, ditemukan orang itu ada yang tertawa-tawa.”


Maka berkata Izrail:

'Alangkah herannya aku melihat orang ini, sedangkan aku diutus oleh Allah untuk mencabut nyawanya, tetapi dia masih bersantai dan bergelak tawa.'

 Rasulullah s.a.w bersabda:

 "Bila telah sampai ajal seseorang maka akan masuklah satu kelompok malaikat ke dalam lubang-lubang kecil dalam tubuh dan kemudian mereka menarik rohnya melalui kedua telapak kakinya sehingga sampai ke lutut.

"Setelah itu datang pula sekelompok malaikat yang lain masuk menarik roh dari lutut hingga sampai ke perut dan kemudian mereka keluar. Datang lagi satu kelompok malaikat yang lain masuk dan menarik rohnya dari perut hingga sampai ke dada dan kemudian mereka keluar.

"Dan akhirnya datang lagi satu kelompok malaikat masuk dan menarik roh dari dadanya hingga sampai ke tenggorokan dan itulah yang dikatakan saat nazak orang itu."

Salman Al-Farisi meriwayatkan hadis Nabi saw yang artinya:

"Perhatikanlah tiga hal kepada orang yang sudah hampir mati itu. Pertama: berkeringat pada pelipis pipinya; kedua: berlinang air matanya dan ketiga: lubang hidungnya kembang kempis. "Sedangkan jika ia mengeruh seperti tercekik, air mukanya nampak gelap dan keruh, dan mulutnya berbuih, menandakan bahwa azab Allah sedang menimpa dia." (HR. Abdullah, al-Hakim dan at-Tarmizi)

Sudah sepatutnya kematian ini memberikan kita kesadaran dan menyadarkan kita bahwa apapun yang kita lakukan akan dicatat dan kenikmatan yang kita dapatkan hanya sementara karena tempat tinggal kita sesungguhnya bukanlah di dunia yang fana ini.

Ya ALLAH Engkau yang Mengetahui Segala Macam Keburukan dan Kesalahan kami, Sehingga kami telah Mendholimi pada diri kami Sendiri, Jika tidak Engkau Ampuni kami, Dan Merahmati kami, tentulah kami menjadi orang yang Rugi.

Allah memerintahkan orang yang beriman untuk berzikir (mengingat dan menyebut nama Allah) sebanyak-banyaknya: “Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya.” [QS Al Ahzab 33:41] Tidak berzikir akan mengakibatkan seseorang jadi orang yang rugi.

“Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka. (Q.S. al-Baqarah [2]: 201)”
 



Reaksi:

0 komentar: